Faktor Psikologis Dibalik Perilaku Bullying Santri di Pesantren: dari Korban menjadi Pelaku

Authors

  • Nur Arofah Tis'ina Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
  • Agus Nurhadi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

DOI:

https://doi.org/10.35891/jip.v12i2.6117

Keywords:

bullying, pesantren

Abstract

Fenomena perundungan (bullying) di lingkungan pesantren menunjukkan adanya pola siklus kekerasan, di mana santri yang sebelumnya menjadi korban kemudian beralih menjadi pelaku saat menduduki posisi senior. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perubahan peran santri dari korban menjadi pelaku bullying serta mengidentifikasi faktor-faktor psikologis yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, untuk menggali pengalaman subjektif santri yang pernah mengalami dan melakukan tindakan bullying. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku bullying dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kebutuhan untuk berkuasa, pengalaman trauma masa lalu, rendahnya empati, serta kurangnya kemampuan pengendalian emosi. Santri yang sebelumnya menjadi korban cenderung mereproduksi perilaku kekerasan sebagai bentuk legitimasi dan penguatan status sosial saat mereka menjadi senior. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi psikologis di pesantren, seperti program pengembangan empati, pelatihan pengelolaan emosi, serta pendampingan bagi santri yang mengalami trauma. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan pesantren yang lebih aman, suportif, dan bebas dari siklus kekerasan, serta menjadi dasar pengembangan program pencegahan dan rehabilitasi kasus bullying di pesantren.

References

Afifah, S. (2023). Pencegahan Perundungan di Pesantren: Sebuah Pendekatan Kualitatif dengan Metode Studi Kasus. Jurnal Pendidikan Karakter, 8(2), 123–134.

Arfah, M., & Wantini, W. (2023). Perundungan di Pesantren: Fenomena Sosial pada Pendidikan Islam (Studi pada Pesantren Ulul Albab Tarakan). Urwatul Wutsqo: Jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman, 12(2), 234-252. https://doi.org/10.54437/urwatulwutsqo.v12i2.1061

Astuti, N. (2020). Hierarki Sosial dan Dampaknya terhadap Perilaku Bullying di Pesantren. Jurnal Psikologi Pendidikan, 15(2), 45–57.

Bandura, A. (1973). Aggression: A social learning analysis. Prentice-Hall.

Espelage, D. L., & Swearer, S. M. (2004). Research on School Bullying and Victimization: What Have We Learned and What Do We Need to Know? School Psychology Review, 33(3), 338–355.

Fadilah, Ariantini, & Ningsih. (2023). Fenomena bullying di kawasan pondok pesantren. Jurnal Bimbingan dan Konseling Borneo, 5(1), 1-10. https://doi.org/10.35334/jbkb.v5i1.4061

Gini, G., Pozzoli, T., & Hymel, S. (2007). Moral disengagement among children and adolescents: A meta-analytic review of the role of empathy and its implications for bullying. Personality and Social Psychology Review, 11(3), 284–314. https://doi.org/10.1177/1088868307302226

GoodStats. (2024). Laporan Statistik Kasus Bullying di Indonesia 2022–2024. GoodStats.

Gross, J. J. (2002). Emotion Regulation: Affective, Cognitive, and Social Consequences. Psychophysiology, 39(3), 281–291. https://doi.org/10.1017/S0048577201393198

Hasanuddin, & Amirullah. (2022). Fenomena Perilaku Bullying di Kalangan Santri Pondok Pesantren Miftahul Huda. Jurnal Konseling Pendidikan Islam.

Huda, A., & Fitriani, L. (2021). Peran Struktur Hierarki dalam Pembentukan Perilaku Bullying di Pesantren. Jurnal Pendidikan Islam, 12(3), 102–115.

Huda, M., & Sari, L. (2020). Pentingnya Empati dalam Mencegah Perilaku Bullying pada Remaja. Jurnal Psikologi Pendidikan, 15(2), 45–53.

Kemenko PMK. (2024). Laporan Kasus Kekerasan Anak di Indonesia. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2022). Peraturan Menteri Agama No. 73 Tahun 2022 tentang Pengasuhan Ramah Anak di Pesantren. Kementerian Agama Republik Indonesia.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). (2024). Laporan Tahunan Perlindungan Anak di Indonesia. KPAI.

Nugroho, M. A., Handoyo, E., & Hendriani, R. (2023). Identifikasi Faktor Penyebab Perilaku Bullying di Pesantren. Jurnal Psikologi Pendidikan, 12(2), 87–98.

Nurdin, M. (2019). Budaya Kekerasan dan Hierarki dalam Lingkungan Pendidikan Pesantren: Tantangan dan Solusi. Journal of Islamic Education, 14(1), 76–89.

Olweus, D. (1993). Bullying at School: What We Know And What We Can Do. Blackwell.

Rahmawati, D. (2021). Pengelolaan Emosi sebagai Strategi Pencegahan Bullying di Sekolah Menengah. Jurnal Pendidikan Karakter, 17(3), 23–33.

Rahmawati, F. (2021). Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Mencegah Bullying di Pesantren. Jurnal Pendidikan Islam, 14(4), 45–56.

Salmivalli, C., Kaukiainen, A., & Voeten, M. (1996). Positive Feelings Among Bullies and Victims: A Reason for Bullying? Aggressive Behavior, 22(2), 91–99. https://doi.org/10.1002/(SICI)1098-2337(1996)22:2<91::AID-AB1>3.0.CO;2-J

Sari, M. R., & Wulandari, R. (2020). Tantangan Pendidikan Moral dalam Menangani Bullying di Lembaga Pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Moral, 12(1), 77–90.

Thornberg, R., & Knutsen, I. (2011). School Bullying and The Social and Moral Dynamics of Peer Groups. In D. L. Espelage & S. M. Swearer (Eds.), Bullying in North American schools (pp. 169–181). Routledge.

Veenstra, R., Lindenberg, S., & Oldehinkel, A. J. (2007). The Influence of Social Networks on Bullying Behavior: A Multilevel Analysis. Social Networks, 29(4), 214–227. https://doi.org/10.1016/j.socnet.2007.02.002

Zakiyah, N. L., & Khusumadewi, A. (2024). Kesejahteraan Psikologis pada Korban Bullying di Pondok Pesantren Al-Bishri Denanyar Jombang. Jurnal BK UNESA, 14(1), 1–10.

Zulva, D.A.A., Yahya, I., & Rofiq, A. (2024). Pesantren Based on Child-Friendly: Countering the Bullying Cases in Pesantren. Journal of Pesantren and Fiqh Sosial, 5(01), 2830-4659. https://doi.org/10.35878/santri.v5i1.1271

Downloads

Published

2025-09-30

Issue

Section

Articles

How to Cite

Faktor Psikologis Dibalik Perilaku Bullying Santri di Pesantren: dari Korban menjadi Pelaku. (2025). Jurnal Psikologi : Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan, 12(2), 425-443. https://doi.org/10.35891/jip.v12i2.6117