##plugins.themes.engagementTheme.article.main##

Khafizh Rosyidi

Production Planing and Control (PPC) merupakan faktor utama dalam setiap perusahaan untuk menunjang kelancaran proses produksi, baik perusahaan mass production maupun perusahaan job order. Perencanaan produksi memiliki peranan yang sangat penting dalam mengantisipasi supaya tidak terjadi keterlambatan dalam pemenuhan target produksi. Oleha karena itu harus dibuat perencanaan produksi (production planning) secara baik. Di lingkungan CV. YAD tingkat produksi harian didasarkan pada permintaan total harian untuk setiap model produk yang akan diproduksi selama satu minggu dibagi dengan banyaknya hari kerja dalam minggu tersebut. Rasio untuk setiap produk menentukan banyaknya unit yang harus diproduksi setiap hari dalam satu minggu agar dapat memenuhi sasaran dalam master schedule planning (MPS). Sebagaimana hasil penelitian bahwa permintaan total mingguan untuk produk A, B dan C di CV. YAD berturut-turut adalah: 500 unit, 2000 unit, dan 5000 unit. Dalam satu minggu diasumsikan terdapat 6 hari kerja, sehingga tingkat produksi harian untuk produk A = 500/6 = 83,33 unit (dibulatkan menjadi 84 unit), B = 2000/6 = 333,33 unit (dibulatkan menjadi 334 unit), dan C = 5000/6 = 833,33 unit (dibulatkan menjadi 834 unit). Berdasarkan pengukuran efektifitas dari metode sequencing, dapat diambil keputusan berkaitan dengan sekuens operasi mana yang terbaik untuk dipilih. Apabila perusahaan lebih memprioritaskan untuk meminimumkan keterlambatan penyerahan produk ke pelanggan, sebaiknya memilih pendekatan FCFS dengan sekuens operasi atau tugas: B-A-C-D, karena memiliki nilai rata-rata keterlambatan terkecil yaitu: 1,75 hari. Tetapi apabila perusahaan ingin memaksimumkan utilisasi sumber daya, disarankan untuk memilih dengan sekuens operasi atau tugas: A-B-C-D, karena memiliki nilai utilisasi tertinggi yaitu 46,3 %. Bagaimanapun juga aturan-aturan yang berkaitan dengan penetapan prioritas kerja dalam operasi manufacturing harus ditetapkan secara rasional, jelas dan konsisten dengan tujuan strategik dari pengambil keputusan perusahaan itu sendiri.

Baker, Kenneth R. 1974. Introduction to Sequencing and Schedulling. John Wiley & Sons: USA.
Narasimhan, Seetharama L.et al. 1994. Production Planning & Inventory Control. Prentice-Hall, International Inc : New Jersey: USA.
Bedworth, David D. et al. 1986. Integrated Production Control Systems. John Wiley & Sons.
Chase, Richard B. et al. 1990. Production & Operations :Management A Life Cycle Approach. Toppan Co Ltd: Japan.
Dinata, Andhika. 2008. “Penjadwalan Job Shop dengan Algoritma Penjadwalan Aktif (Studi Kasus di CV. Seruni Furniture Padang)”. Laporan Kerja Praktek. Jurusan Teknik Industri: Universitas Andalas, Padang.
Gultom, Robin Parulian. 2006. “Penjadwalan n Job m Mesin Cetak secara Paralel untuk Meminimalkan Waktu Keterlambatan Pencetakan Pada CV. Surya Mas Palembang”. Kompilasi Jurnal Skripsi TI-STT Musi Palembang (Oktober 2005) (www.http//:musi.ac.id), diakses 13 Juli 2008.
Laboratorium Sistem Produksi ITB. 2003. Penjadwalan Produksi. Institut Teknologi Bandung : Bandung (www.lspitb.org), diakses 27 Januari 2008.
Meredith, Jack R. et al. 1984. The Management of Operation : 2nd Edition. John Wiley & Sons, Inc: Canada.
Morton,Thomas E. et al. 1993. Heuristic Schedulling Systems: with applications to production systems&project management. Jhon Wiley&Sons, Inc, Canada : USA.
Nasution, Arman Hakim. 2006. Manajemen Industri. PT. Andi Yogyakarta. Yogyakarta.
Nasution, Arman Hakim2. 1999. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. PT. Guna Widya. Jakarta.
Panggabean, Henry Pantas. 2002. Jurnal: “Penjadwalan Job Shop Statik dengan Algoritma Simulated Annealing”. Universitas Katolik Parahyangan : Bandung (http://home.unpar.ac.id/), diakses 13 Juli 2008.
Pinedo, Michael L. 2005. Planning and Schedulling in Manufacturing and Services. Springer: USA.
Russel & Taylor. 2000. Operation Management. Prentice Hall Inc.
Singgih Prasetyo, Soeparno. “Penjadwalan Job Shop untuk Meminimasi Makespan (Studi Kasus di PT Fuji Dharma Electric)”. Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi II: ITS)