KAIDAH FIQHIYAH BERWAWASAN MULTIKULTURAL

  • Ali Mohtarom Universitas Yudharta Pasuruan

Abstract

Secara historis, hukum fikih lahirnya tidak lepas dari perdebatan peran budaya dan nash sejak masa sahabat, yaitu antara Umar ibn al-Khattab dan para sahabat Nabi lainnya dalam masalah bagian muallaf  dan pembagian harta rampasan perang. Umar berpijak pada kepentingan kesejahteraan dan budaya masyarakat setempat, sedangkan para sahabat lainnya berpegang teguh bunyi nash al-Qur’an dan Sunnah yang telah menegaskan aturan hukum bagian muallaf dan pembagian harta rampasan perang tersebut bagi yang berhak. Perdebatan antara peran budaya dan nash terus berlanjut di kalangan ulama fikih hingga dewasa ini.

References

Al-Zukhaili, Wahbah. Ushul al-Fiqh al-Islami Jilid II. Beirut: Dar al-Fikr, 1986.

Baso, Ahmad, “Islam Liberal Sebagai Ideologi”, Gerbang, Vol. 06, No 03, Pebruari-April 2000.

Dahlan, Moh. Abdullahi Ahmed An-Na’m: Epistemologi Hukum Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Dahlan, Moh. Epistemologi Hukum Islam: Studi Atas Pemikiran Abdullahi Ahmed An-Na’im.

Hasan, Ahmad. The Early Development of Islamic Jurisprudence. Islamabad: Islamic Research Institute, 1970.

Khallaf , ‘Abd al-Wahhab. ‘Ilm Usul al-Fiqh. Kairo: Dar al-Qalam, 1978.

Madjid, Nurcholish, “Pergeseran Pengertian “Sunnah” ke “Hadits” Implikasinya Dalam Pengembangan Syari’ah”, dalam Budhy Munawar-Rachman (ed.). Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah. Jakarta: Penerbit Yayasan Paramadina, 1995.

Minhaji, Akh., “Hak-hak Asasi Manusia dalam Hukum Islam: Ijtihad Baru tentang Posisi Minoritas Non-Muslim”, dalam M. Amin Abdullah, dkk, (eds.). Antologi Studi Islam. Yogyakarta: DIP PTA IAIN Sunan Kalijaga, 2000.

An-Na‘im, Abdullahi Ahmed, “The Contingent Universality of Human Rights: The Case of Freedom of Expression in African and Islamic Contexts”, Emory International Law Review 11, 1997.

An-Na‘im, Abdullahi Ahmed dan Francis M. Deng (eds.). Human Rights in Africa: CrossCultural Perspectives.

An-Na’im, Abdullahi Ahmed. Toward an Islamic Reformation; Civil Liberties, Human Rights and International Law. Syracuse: Syracuse University Press, 1990.

al-Shawwaf, Muhami Munir Muhammad Thahir. Tahafut al-Qira’ah al-Mu‘ashirah. Cyprus: Al-Shawwaf li al-Nashr wa al-Dirasat, 1993.

Siradj , KH. Sai d Aqi l , “Mengurai Kekusutan Keberagamaan”, http: //

www.wahidinstitute.org/Opini/Detail/?id=287/hl=id/Mengurai_ Kekusutan_

Keberagamaan, diakses 31 Maret 2012.

Al-Syafi’i, Muhammad bin Idris. Al-Risalah. Beirut: Dar al-Fikr, t. th.

Sirry, Mun’im A. Sejarah Fikih Islam; Sebuah Pengantar. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.

Sjadzali, Munawir, “Kembali Ke Piagam Madinah”, dalam Abu Zahra (ed.). Politik Demi

Tuhan: Nasionalisme Religius di Indonesia, Jakarta: Pustaka Hidayah, 1999.

Syarifuddin, Amir. Ushul Fikih 1. Jakarta: Kencana, 2009.

Wahid, Abdurrahman, “Syari’atisasi dan Bank Syari’ah” dalam Abdurrahman Wahid. Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Jakarta: The Wahid Institute, 2006.

Wahid, Abdurrahman. Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan. Jakarta: Desantara, 2001.

Wahid, Abdurrahman. Sekadar Mendahului: Bungan Rampai Kata Pengantar. Jakarta: Penerbit Nuansa, 2011.

Zahrah, Muhammad Abu. Usul Fikih, terj. Saifullah Ma’sum. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997.

How to Cite
Mohtarom, A. (1). KAIDAH FIQHIYAH BERWAWASAN MULTIKULTURAL. AL MURABBI, 3(1), 121-134. Retrieved from https://jurnal.yudharta.ac.id/v2/index.php/pai/article/view/897
Section
Artikel