AL-QUR’AN SEBAGAI RUH

  • Wiwin Ainis Rohtih

Abstract

Mengenai penamaan Al-Qur’a>n dengan ru>h bukan kebetulan dan tanpa hikmah, seperti juga nama dan sifat lain yang dimiliki oleh Al-Qur’a>n yang mencerminkan fungsi dan perannya yang komprehensif dan universal. Ibn Qutaibah, dalam Ta’wi>l Mushkil al-Al-Qur’a>n, menyatakan bahwa firman Allah dinamakan ru>h karena dapat menyelamatkan dari kebodohan dan mematikan kekufuran. Sebagai ru>h, al-Qur’a>n merupakan undang-undang Allah yang mengatur kehidupan manusia sebagai individu maupun kolektif. Sebagai sistem kehidupan, Ru>h (wahyu) mampu menghidupkan dan mengerakkan akal dan fikiran, pengantar dari ragu kepada yakin, dari kebodohan kepada ilmu, dari lalai kepada ingat, khianat kepada amanat, riya’ kepada ikhlas, lemah kepada teguh, dan sombong kepada tahu diri. Oleh karenanya, ru>h layaknya semacam sinergi dari elemen-elemen sistem organ tubuh, artinya ketika organ-organ tubuh manusia semua berfungsi maka ru>h hadir, dan ketika tidak berfungsi, ru>h menghilang, sehingga kehadiran ru>h dapat dipahami sebagai sunatullah.

References

Al-Qur’a>n.

Ibn Qutaibah, Abi> Muh{ammad ‘Abd Allah Ibn Muslim. Ta’wi>l Mushkil al-Qur’a>n. Kairo: Maktabah Da>r al-Tura>th, 2006.

Ibn Kathi>r, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Az{i>m. Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2004

Mubarok, Ahmad. Psikologi Qur'ani. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001

Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’a>n, Vol 7. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

Al-T{abari>, Abu> Ja’far. Ja>mi’ al-Baya>n fi> Ta’wi>l al-Qur’a>n. Al-Maktabah al-Sha>milah: Mu’assah al-Risa>lah, 2000.

Published
2018-04-04
Section
Artikel