##plugins.themes.engagementTheme.article.main##

Irfan Kharisma Putra

Abstract


               Abstract The times in the industrial era 4.0 require all sectors to make changes and innovations; every component in such scope is necessary to carry out development and revolution. Each stakeholder must be able to collaborate to materialize the programs and policies enacted by the regions. Collaboration is the key to accelerating the actualization of a program. This research analyzes the basis for the preparation of a business development strategy for the tourist village of Sumberbiru in Wonomerto Village, Wonosalam District, Jombang Regency. This research employed a descriptive qualitative method. This tourist village was chosen because it has unique characteristics. The results obtained from this study are the tourist village of Sumberbiru has accelerated the development of tourist villages with the Penta helix approach. The initiation started with managing a tourist village in collaboration with the village community empowerment agency in the field of assistance to Village-Owned Enterprises (BUMDes). Optimization of business growth in the tourism sector in Wonomerto Village through Pentahelix has been going well, but there is still much to be improved and maintained.


 


Keywords: Innovation, Tourist Village, Pentahelix, and Acceleration


Abstrak


               Perkembangan era industry 4.0 menuntut semua sektor untuk melakukan perubahan dan inovasi, setiap elemen yang ada pada suatu daerah diharuskan untuk melakukan pengembangan dan revolusi. Setiap stakeholder diharuskan menjalin bekerjasama untuk merealisasikan program dan kebijakan yang ditetapkan oleh daerah. Kolaborasi menjadi kunci percepatan terealisasinya sebuah program. Penelitian ini digunakan untuk menganalisis dasar penyusunan strategi pengembangan bisnis desa wisata sumberbiru yang ada di Desa Wonomerto, Kabupaten Jombang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Desa wisata ini dipilih karena mempunyai karakteristik yang unik. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah desa wisata sumber biru telah melakukan akselerasi dalam pengembangan desa wisata dengan pendekatan pentahelix. Inisiasi dimulai dari manajemen desa wisata yang berkolaborasi dengan dinas pemberdayaan masyarakat desa di bidang pendampingan BUMDes. Optimalisasi pertumbuhan bisnis di sektor pariwisata di desa wonomerto melalui pentahelix sudah berjalan dengan baik, namun masih banyak yang harus ditingkatkan dan dipertahankan.


 


 Kata Kunci: Inovasi, Kolaborasi, Desa Wisata, Pentahelix dan Akselerasi


Keywords: Innovation Tourist Village Pentahelix Acceleration Inovasi Kolaborasi Desa Wisata Akselerasi
Abd Manan, T. S. B., Khan, T., Sivapalan, S., Jusoh, H., Sapari, N., Sarwono, A., Ramli, R. M., Harimurti, S., Beddu, S., Sadon, S. N., Kamal, N. L. M., & Malakahmad, A. (2019). Application of response surface methodology for the optimization of polycyclic aromatic hydrocarbons degradation from potable water using photo-Fenton oxidation process. Science of the Total Environment, 665, 196–212.
Adikampana, I. M., & Parashita, N. L. L. (2018). Perkembangan Desa Wisata Pangsan Sebagai Destinasi Pariwisata Di Kecamatan Petang Badung. Jurnal Destinasi Pariwisata, 5(1), 34.
Aribowo, H., Wirapraja, A., & Putra, Y. D. (2018). Implementasi kolaborasi model pentahelix Dalam Rangka Mengembangkan Potensi Pariwisata Di Jawa Timur Serta Meningkatkan Perekonomian Domestik. Jurnal Mebis (Manajemen Dan Bisnis), 3(1).
Arida, I. N. S., & Pujani, L. K. (2017). Kajian Penyusunan Kriteria-Kriteria Desa Wisata Sebagai Instrumen Dasar Pengembangan Desawisata. Jurnal Analisis Pariwisata, 17(1), 1–9.
Burge, D. L., Boucherle, G., Sarbacker, S. R., Singleton, M., Goldberg, E., Waghorne, J. P., ?, Adi-Da, Alter, J. S., Altglas, V., Beckford, J., Louveau, F., Anandamurti, S. S., Ankerberg, J., Weldon, J., Aravamudan, S., Ash, D., Hewitt, P., Aune, K., … Yoga, A. (2014). Yoga and Kabbalah as World Religions? A Comparative Perspective on Globalization of Religious Resources. In Gurus of Modern Yoga (Vol. 15, Issue 2).
Koswara, A., & Syathori, A. D. (2018). Faktor-faktor yang Terkait dengan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani di Kota Malang. AGRIEKSTENSIA, 17(1), 82–91.
Kurniawati, D., & Hargono, R. (2014). Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Promkes, 2(1), 15–27.
Lexy, J. (2010). Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, 163.
Nita Andrianti, T. L. (2019). Pengembangan desa wisata melalui penguatan strategi komunikasi pariwisata. Senadimas Unisri, September, 205–213.
Pearce, D. (1987). Tourism today: a geographical analysis. Tourism Today: A Geographical Analysis.
Pranadji, T. (2016). Kajian ekologi kebudayaan terhadap sektor informal di perkotaan: suatu proses adaptasi ketidakseimbangan interaksi Kota-Desa akibat Industralisasi. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 10(2-1), 38.
Ridwanullah, M., Rahmawati, R., & Hernawan, D. (2021). PEMETAAN TATA KELOLA PENGEMBANGAN PARIWISATA. Jurnal Governansi, 7(1), 9–18.
Ulum, S., & Dewi, S. A. (2021). PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA GAMPLONG. Jurnal Manajemen Publik & Kebijakan Publik (JMPKP), 3(1), 14–24.
UNESCO. (2011). Recommendation on the Historic Urban Landscape. Records of the General Conference - 31st Session, 1(November), 170.
Wijaya, K., & Permana, A. Y. (2017). Kawasan Cigondewah Terkait Sarana Prasarana Lingkungan Terbangun Sebagai Kawasan Wisata Tekstil di Kota Bandung. Langkau Betang: Jurnal Arsitektur, 4(2), 79.
Yusnikusumah, T. R., & Sulistyawati, E. (2016). Evaluasi Pengelolaan Ekowisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser Sumatera Utara. Jurnal Perencanaan Wilayah Dan Kota, 27(3), 173.