HIBAH TERHADAP ANAK-ANAK DALAM KELUARGA

Antara Pemerataan dan Keadilan

  • Ali Mohtarom
Keywords: Hibah, Anak, Keluarga

Abstract

Hibah mempunyai aspek horizontal (hubungan antara sesama manusia serta lingkungannya) yaitu dapat berfungsi sebagai upaya mengurangi kesenjangan antara kaum yang berpunya dengan kaum yang tidak punya, antara si kaya dan si miskin, serta menghilangkan rasa kecemburuan sosial. Inilah aspek horizontal hibah.Hibah juga memiliki dimensi taqarrub dan sosial yang mulia, di sisi lain terkadang hibah juga dapat menumbuhkan rasa iri dan benci, bahkan ada pula yang menimbulkan perpecahan di antara mereka yang menerima hibah, terutama dalam hibah terhadap keluarga atau anak-anak. Hibah seorang ayah terhadap anak-anak dalam keluarga tidak sedikit yang dapat menimbulkan iri hati, bahkan perpecahan keluarga. Inilah permasalahan yang ingin penulis bahas dalam artikel ini, suatu permasalahan  barangkali dihadapi dan dialami banyak orang, baik di kota maupun di daerah.Dalam bidang hukum syara’, hibah didefinisikan sebagai akad yang dilakukan dengan maksud memindahkan milik seseorang kepada orang lain ketika masih hidup dan tanpa imbalan. Allah SWT mensyariatkan hibah karena di dalamnya terkandung upaya menjinakkan hati dan memperkuat tali kasih sayang di antara manusia.Jika seseorang dalam keadaan sakit yang membawa kematian memberikan harta kepada orang lain, hukum hibahnya sama dengan hukum wasiat, yaitu dianggap sah sebanyak sepertiga bagian dari hartanya.Tidak ada perbedaan di kalangan mayoritas ulama, bahwa bagi orang tua disunnahkan bersikap adil dan menyamaratakan pemberian kepada anak-anaknya, dan makruh membeda-bedakannya. Akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam mengartikan apa yang dimaksud dengan pemerataan  (al-taswiyah) dalam pemberian itu. Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah, serta Malikiyah dan Syafi’iyah – ini merupakan kelompok mayoritas – berpendapat bahwa orang tua disunnahkan menyamaratakan dan tidak membeda-bedakan dalam pemberian kepada anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Anak perempuan akan memperoleh pemberian yang sepadan dengan yang diberikan kepada anak laki-laki.

References

Luwis Ma’luf, Al Munjid fi al-Lughah, Dar al-Masyriq, Beirut, 1973

Ali Imran, (3 : 38)

Sayid Sabiq, Fiqh al Sunnah, Dar al-Fikr, Beirut, 1983, Juz 3.

Hadits di takhrij oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, juga oleh al-Baihaqi

Wahbah al-Zuhaili, Al Fiqh al Islami wa adillatuhu, Dar al Fikr, Beirut, 1985, Juz 5.

Published
2020-09-25